Selasa, 10 Maret 2009

Kebohongan Publik (Parodi Pegawai Negeri 02)

Karena Pak Camat tidak bisa datang, Pak Oemar Bakrie siang itu harus mewakili untuk membuka sosialisasi pemilu di salah satu Desa. Dengan mengendarai sepeda motor plat merah, tanpa teman dan tentu saja tanpa pengawalan, dengan mantapnya Pak Oemar Bakrie mengemban tugas dan amanat. Tadi malam sudah dia "lalap habis" aturan tata cara pemilu, sebagai bahan ceramahnya mewakili camat.
Ketika tamu dan undangan sudah siap, acara segera dimulai. Tibalah Pak Oemar Bakrie dipersilahkan naik ke mimbar untuk memberikan sambutan atas nama Pak Camat. Sudah kebiasaan bila pejabat mewakili atasannya, pada awal sambutan "harus" memamitkan atasannya.
Dengan suara mantap Pak Oemar Bakrie bicara, "Saudara-saudara, mohon maaf sehubungan dengan Bapak Camat sedang ada keperluan penting yang tidak dapat ditinggalkan, maka memerintahkan kami untuk mewakili beliau membuka sosialisasi..........".
Tiba-tiba hadirin serempak langsung bilang, "Huuuuuuuuu!!!!!" dan pada tersenyum simpul.
Pak Oemar Bakrie kaget, langsung bertanya, "Ada apa?"
Seorang lelaki sudah tua, yang kayaknya pensiunan pejabat Jakarta yang pulang kampung dan menjadi tokoh disitu lalu berdiri dan bicara, "Minta maaf. Bapak telah melakukan kebohongan publik. Karena tidak transparan. Pak Camat sedang ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan itu kan artinya ................."
"Sedang ke belakang atau BAB, pak!!!" celetuk seorang peserta.
Hadirin langsung tertawa, sementara Pak Oemar Bakrie tersenyum kecut. Dalam hati Pak Oemar Bakrie mengangguk-angguk setuju dan membenarkan kejadian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar